Kekuasaan Bagaikan Lokomotif Kereta
Di antara keistimewaan penguasa adalah pengaruh yang diakibatkan kebijakannya. Jika seorang rakyat hendak makan, lalu memilih nasi atau babi, maka perbuatan itu hanya berakibat pada dirinya. Berbeda halnya dengan penguasa. Ketika ia membuat kebijakan, dampaknya akan dirasakan seluruh rakyat di negaranya, bahkan di negara lain. Bisa jadi, tidak hanya dirasakan pada saat itu namun hingga beberapa generasi sesudahnya.
Ketika penguasa menerapkan Undang-undang yang melarang miras, pornografi, atau riba; berbagai perbuatan maksiat itu akan berkurang atau bahkan lenyap dari kehidupan umum. Demikian pula ketika penguasa menerapkan #syariah secara total dan menjatuhkan sanksi tegas kepada orang yang melanggarnya, tentu akan berakibat pada ketaatan rakyat terhadap syariah. Tak mengherankan jika pemimpin adil mendapatkan pahala yang amat besar.
Para pemimpin yang adil itu disebut pertama dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah Swt, ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya pada Hari Kiamat kelak (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad)
Sebaliknya, jika penguasa menerapkan UU yang mengizinkan aneka perbuatan maksiat, dipastikan kemaksiatan akan marak di dalam kehidupan masyarakat. Dia tidak hanya berdosa atas perbuatannya, namun juga atas kegiatan maksiat yang dilakukan rakyatnya. Kelak para penguasa yang menyesatkan akan dituntut orang-orang yang tersesatkan agar mendapatkan azab dua kali lipat dan laknat yang besar (lihat QS al-Ahzab [33]: 68)
Berpijak dari ayat ini, seorang Muslim hanya akan berminat menjadi pemimpin dalam sistem yang menerapkan syariah. Ketika sistemnya bukan syariah, maka di hatinya sama sekali tidak terbetik keinginan menjadi penguasa, kecuali ia mampu mengubahnya.
Bagaikan kereta, kekuasaan di sistem kufur adalah lokomotif yang membawa berbagai gerbong kemaksiatan dan kemungkaran, yang mengantarkan masinis dan penumpangnya ke neraka yang penuh siksa.